Published 05/19/2010
- 1:58 a.m. PST

Oleh Dr. Taruna Ikrar
(University of California, School of Medicine, Irvine, USA)
Pada saat seseorang menderita penyakit, apalagi penyakit yang parah,
maka obat menjadi kebutuhan pokok yang tidak bisa ditunda. Obat merupakan hasil ekstrak secara kimiawi, sehingga penggunaannya
harus secara tepat dan benar. Hal ini disebabkan, zat kimia obat
tersebut jika masuk kedalam tubuh akan segera bereaksi berdasarkan
reaksi kimiawi dan biologi tubuh. Yang jika penggunaannya secara tepat
dan berdasarkan anjuran atau resep dokter akan berdampak baik untuk
menyembuhkan penyakit. Namun sebaliknya jika penggunaannya tidak tepat
akan menyebabkan reaksi yang berlebihan, ketergantungan obat, sampai
pada tahap keracunan dan kematian orang yang menggunakan obat tersebut.
Penggunaan Obat Secara Tepat
Penggunaan obat yang tepat, dapat diartikan sebagai penggunaan obat yang
sesuai dengan dosis, jangka waktu pemakaian, serta berdasarkan indikasi
atau kebutuhan klinis pasien yang dilandasi atas keterjangkauan biaya.
Jadi secara sederhana dapat dikatakan bahwa penggunaan obat yang tepat
adalah yang memenuhi syarat atau aspek medis, ekonomis dan hukum sosial.
Pentingnya penggunaan obat secara tepat dan rasional, disebabkan atas
beberapa faktor yaitu:
- Upaya untuk mencegah terjadinya resistensi atau ketidak efektifan
obat. Jika telah terjadi resistensi, maka pada saat pemakaian obat
tersebut dikemudian hari, obat tersebut menjadi tidak manjur lagi untuk
menyembuhkan penyakit yang diderita.
-
Peningkatan biaya pengobatan, yaitu kenaikan biaya obat yang
berdampak pada peningkatan beban ekonomi di masyarakat. (Hal ini dapat
dikurangi dengan penggunaan obat tepat).
-
Efektif dan keamanan pengobatan, jika penggunaan obat yang tidak
tepat akan berdampak pada efektivitas obat, yang pada akhirnya tidak
menyembuhkan tetapi bahkan akan memperparah penyakit yang diderita,
serta dapat berakhir dengan kecacatan dan kematian. (Gambar 1: Potensi
obat dan zat kimia dalam menyebabkan keracunan)
Keracunan Obat
Reaksi obat yang merugikan adalah respon terhadap obat yang berbahaya
dan tidak disengaja. Dalam deskripsi ini penting dijelaskan bahwa hal
tersebut menyangkut respon pasien, di mana faktor individu dapat
memainkan peranan penting, bahkan fenomena ini dapat berupa: respon
terapi tak terduga, berupa efek samping dari obat tersebut. (Gambar 2:
Contoh-contoh obat yang berbahaya).
Biasanya keracunan obat dapat terjadi karena pemakaian yang berlebihan
(Melebihi batas terapi obat atau karena pemakaian dalam waktu yang lama
(Kronis). Selain itu dapat disebabkan karena reaksi alergi, ataupun
karena pemakaian obat yang bukan berdasarkan indikasi. Demikian pula
diakibatkan oleh pemakaian obat yang merupakan kotra indikasi, yang
disebabkan ketidaktahuan pasien.
Keracunan obat pada seseorang tentunya merupakan suatu bencana
tersendiri yang seharusnya dapat dihindari. Menurut laporan Institute of
Medicine, reaksi obat merugikan merupakan penyebab utama kematian
urutan keempat di Amerika Serikat dan lebih dari dua juta reaksi serius
terjadi setiap tahun. Reaksi obat yang merugikan ini dapat terjadi
karena beberapa alasan, termasuk pemakaian dosis yang tidak benar,
penyalahgunaan obat dan interaksi antara obat.
Karena semua obat memiliki kemungkinan efek samping, olehnya pemakaian
obat dibutuhkan pemantauan penggunaannya, hal ini untuk membuat beberapa
obat yang lebih aman. Sehingga dokter sebelum meresepkan, atau
masyarakat sebelum mengkonsumsi obat sebaiknya memahami:
-
Batas normal serta level kritis yang memungkinkan obat yang dikonsumsi
beracun.
-
Reaksi fisiologis dan toksisitas obat, serta kontra indikasi obat
tersebut.
-
Interpretasi level kebutuhan dan efektivitas obat tersebut.
-
Obat-obatan yang mempunyai risiko yang tinggi dan sensitif,
sebaiknya dokter yang memberikan resep memahami metode uji laboratorium
untuk memantau tingkat obat.
Contoh Reaksi Keracunan Obat
Stevens Johnson Syndrome merupakan contoh populer kasus keracunan obat
yang ditandai munculnya ruam atau luka dan lecet yang sangat parah pada
kulit, sering dalam bentuk atipikal (datar, tidak teratur) pada lesi
tersebut, demikian pula terjadi kerusakan selaput lendir (mulut, mata,
dan daerah kelamin). Syndrome ini bisa berakhir dengan kematian yang
menggenaskan. (Gambar 3: Penderita Stevens Johnson Syndrome akibat
keracunan Obat).
Tips Mencegah Keracunan Obat
-
Konsumsi obat sesuai anjuran dokter
-
Jika menggunakan obat, perhatikan secara teliti etiket obat (aturan
pakai, dosis, indikasi dan kontra indikasinya, usia penggunaan, masa
berlaku dan kedaluwarsa-nya).
- Hindari mengkonsumsi obat yang bisa menyebabkan ketergantungan,
misalnya obat-obat narkotik, dan psikotropik lainnya.
-
Jika ada keluarga atau orang disekitar yang menderita tanda keracunan
obat. Misalnya gejala berupa urtikaria (gatal-gatal), sesak napas,
muntah-muntah, pusing, atau kesadaran menurun (Pingsan), setelah
mengkonsumsi suatu obat. Lakukan tindakan berikut:
- Kurangi efek obat dengan meminum air putih
- Hentikan mengkonsumsi obat tersebut
- Minum antihistamin atau anti alergi yang dosisnya disesuaikan dengan
usia penderita.
- Berikan bantuan pernapasan, jika terjadi sesak napas.
- Kalau penderita mengalami muntah dan diare, berikan larutan oralit
(garam ¼ sendok the ditambah 1 sendok gula manis yang dilarutkan dalam 1
gelas air putih).
- Segera minta pertolongan dokter/paramedis terdekat.
Untuk share
artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?18423
Mohon
beri nilai dan komentar di
bawah artikel ini
____________________________________________________
Supported
by :